Tinggalkan komentar

Pasar Wage Sejak Dipindah Sudah Bermasalah


SEJAK dipugar dan dipndah dari posisi semula pada tahun 2001, Pasar Wage Purwokerto sudah membawa benih masalah. Pedagang menolak pindah, Pemkab dan DPRD tetap memaksa.

Itulah gambaran awal kondisi pasar terbesar di Banyumas tersebut. Akhirnya, yang terjadi adalah bom waktu masalah yang setiap saat bisa meledak. Masalah yang tak kunjung selesai kemudian berimbas pada kehidupan pedagang di sana. Dari tahun ke tahun, mereka banyak yang merugi. Bahkan, tak sedikit yang menutup usahanya. Lalu, muncullah pedagang-pedagang baru. Namun sebagian dari mereka kemudian bangkrut lagi. Pihak Pemkab berusaha membenahi, menata dan menghidupkan dengan berbagai langkah. Termasuk menyuntikkan anggaran APBD untuk penataan pasar. Dalih pembenahan, termasuk yang terakhir berupa penataan lantai dua, adalah untuk meramaikan pasar yang tertutup oleh banyak ruko gede tersebut. Pedagang beranggapan permasalahan di pasar tersebut muncul karena kesalahan penempatan lokasi berjualan. Jumati, salah satu pedagang, mencontohkan salah satu kekeliruan pengelola adalah menempatkan penjual sayur di lantai atas sementara konfeksi di lantai bawah.

“Dulu saya memiliki dua kios di blok B dan C, namun jarang pembeli yang datang ke sana. Setiap hari banyak sayuran terbuang percuma karena tidak laku. Terus merugi, saya pun penjual dua kios tersebut dan memilih berjualan di bawah.,” kata Jumati. Dia mengaku telah berdagang di pasar itu sejak 1986. Saat itu kondisi jual beli jauh lebih baik dibandingkan saat ini. Dia kecewa karena harus bolak-balik berpindah lokasi, sehingga pelanggannya banyak yang kabur. Pedagang itu pesimistis pembangunan eskalator bakal mampu mendongkrak pengunjung ke lantai dua Pasar Wage. Alasannya, kebanyakan pembeli adalah orang desa yang untuk naik escalator di mal saja takut. “Saya sudah tidak memiliki harapan karena bisa berjualan saja sudah sangat bersyukur. Pertanyaannya, apakah lantai dua muat ketika seluruh pedagang yang ada di bawah disuruh naik ke sana?” katanya.

Kondisi tersebut juga dikeluhkan oleh seorang tukang parker, Marsiyam. Menurutnya, lahan parkir menjadi sempit setelah banyak pedagang di lantai atas turun untuk berjualan di bawah. Apabila melihat perbandingan kondisi Pasar Wage lama dan baru seharusnya pasar yang sekarang bisa menyejahterakan pedagang. Pasalnya, luasnya bertambah dari semula 9.400 meter persegi menjadi 10.697 meter persegi. Jumlah los yang disediakan pun bertambah banyak, menjadi 83 unit dari yang semula hanya 16 unit dan ditambah kios 277 unit. Pasar Wage baru pun dirancang menampung 2.000 pedagang. (Agung Lindu Nagara, Agus Wahyudi ).  

Sumber : SUARA MERDEKA 24 SEPTEMBER 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: